2 hari 1 malam ini tubuh saya terforsir. Rasa lelah, letih, lesu merambah ke sekujur tubuh saya. Semoga apa yang telah saya lakukan menjadi sebuah amalan yang berkah bagi hidup saya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Mengenai kata akhirat! saya jadi ingat bahwa kemaren saya telah menyelesaikan/merampungkan cerpen (cerita pendek) saya yang bertemakan soal kematian. Rada serem yah klo mendengar kata kematian? tetapi cerpen yang saya buat itu jauh dari horor, karena saya mengedepankan pesan tentang kematian tersebut. Mungkin diantara kalian ada yang penasaran dengan cerpen yang telah saya buat itu tapi sebelumnya maaf karena saya belum bisa mem-posting-kanya ke blog saya ini. Ada sesuatu kepentingan lain yang mengharuskan saya menundah untuk mem-posting-kan Karya Penaku itu. tapi insyAllah next akan saya posting-kan.
Kembali ke awal tulisan saya mengenai 2 hari 1 malam yang membuat saya capek. Mungkin diantara pembaca ada yang tau dan mungkin juga ada yang belum tau kegiatan apa yang telah saya lewati selama itu. Saya adalah anggota JCM (Jama'ah Cinema Mahasiswa) UIN Sunan Kalijaga Jogja, yang otomatis mau tidak mau saya harus membantu teman-teman lain sebagai panitia pelaksanan karena program ini merupakan tanggung jawab saya juga.
Dimulai pada tanggal 28 Oktober 2011 yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda sekaligus hari ulang tahun salah satu teman kami, JCM UIN SuKa Jogja juga memperingati hari kelahiranya yang ke 18 atau 19?? aku lupa (bukan anggota yang baik nih, jangan dicontoh)
Acara Milad JCM kali ini di laksanakan di Gelanggang teater UIN SuKa. Walaupun perserta yang datang tidak membludak seperti saat nonton pertandingan bola, tetapi acara malam itu bisa dibilang meriah dan menarik. (bagi yang merasa berkesan saat mengikutinya).
Seperti acara-acara umumnya, pertama dimulai dengan pembukaan sekaligus sambutan-sambutan dari ketua panitia sampai pembesar JCM (tidak berlebihkan saya pake kata "pembesar"?). Mungkin karena mereka juga telah berjasa membesarkan nama JCM hingga saat ini. (salut buat mereka, semoga tidak ada unsur2 lain tapi memang ikhlas karena-Nya, amin)
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Pemotongan tumpeng kali ini biasa dibilang UNIK. Kenapa bisa dibilang demikian?? Mungkin kurang persiapannya dari pihak panitia, terpaksa tumpeng yang ada di potong dengan centong (sendok besar buat ambil nasi) karena tidak disiapkannya pisau pemotong.
Hadirin pun serentak tertawa mendapati hal yang demikian. Dan ini lah yang membuat Milad Malam itu semakin berwarna. Tidak hanya itu, setelah proses pemotongan tumpeng yang lain dari pada yang lain, Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Kali ini panitia boleh diberikan JEMPOL (apresiasi) karena baru kali ini panitia menyediakan makanan prasmanan, padahal jika kalian tau uang JCM itu nipis. (ups keceplosan.....)
Dengan semangat 45 para peserta berbondong-bondong menuju tempat makanan disajikan. jangan berfikir mereka seperti kelaparan tapi memang itulah kebiasaan manusia umumnya jika melihat yang asek asek (mengambil kata-katanya ayu ting-ting...).
Alhasil, walaupun tanpa saya tanyakan pada para peserta, tapi PASTI dan OTOMATIS perut peserta pada kenyang setelah makan. iya kan?? Acara pun dilanjutkan dengan unjuk kebolehan, dalam kesempatan ini bukan sirkus atau sulap yang ditampilkan tetapi akustik yang hanya diiringan genjrengan gitar. Lagu pertama mengopy dari lagunya Ten 2 Five yang bertajuk I Will Fly. Kali ini tata bisa dibilang dapat menghipnotis peserta hingga mereka larut dan ikut bernyanyi bersama. Tidak mau kalah, peserta dari angkatan atas (senior) pun unjuk kebolehannya dengan menyanyi. Mereka pun membawakan beberapa lagu.
Malam pun semakin larut, acara lebih meriah lagi saat dari pihak peserta memberikan suguhan pertunjukan yang sepertinya baru pertama kali ini diadakan. HIPNOTIS! ya pada Milad ini ada salah satu panitia yang menunjukkan kebolehannya dalam dunia hipnotis. Peserta pun sangat merasa terhibur dengan pertunjukkan ini karena secara kebetulan salah satu panitia juga yang menjadi korban hipnotis.
Seperti yang ada di salah satu acara TV swasta Indonesia, hipnotis yang dilakukan panitia ini juga membahas soal percintaan dari si korban. Hasil hipnotis mambuktikan bahwa si korban itu menyukai salah satu anggota JCM (jadi bisa dikatakan CINLOK, klo menurut bahasa gaulnya). Saya tidak ingin berlama-lama dengan hipnotis ini karena keBENARannya hanya Tuhan dan Panitia yang tau..
Selanjutnya ada acara terakhir, yaitu tentang nominasi. Tidak seperti kebanyakan nominasi seperti yang ada di TV-TV swasta, acara nominasi ini bisa dikatakan Mekso (biar gak pake kata UNIK lagi). Kenapa Mekso karena setiap nominasi diberikan embel-embel "SOK" dan "TER" di depan katagorinya. Aneh kan?? itulah JCM... Tanpa harus memanggil satu-satu nama pemenangnya, saya cuma akan mencoba mengingat-ingat kembali kategori yang di sajikan. 1. kategori Miss/Mr SOK Cakep, 2. SOK Cantik, 3. SOK Idich, 4. SOK sibuk, 5. SOK Sexy, 6. SOK Gendut, 7. SOK GALAK, 8. SOK Gondrong. Dan secara kebetulan atau memang dirancang seperti itu, si Tata (yang nyanyi I Will Fly) mendapatkan dua Nominasi sekaligus. Yang pertama kategori SOK Gendut dan yang kedua kategori SOK Sexy.
Dibalik itu itu semua masih ada kejutan dari panitia. Tepat saat si Tata Maju untuk mengambil penghargaan sebagai Miss SOK Sexy, beberapa panitia mengikuti dia dari belakang dan menyiramkan tepung plus air kepada si Tata. Ini adalah kejutan bagi si Tata yang tengah merayakan Ulang Tahunnya yang bertepatan dengan Milad JCM sekaligus peringatan Hari Sumpah Pemuda. Selamat ulang tahun kepada JCM, Tata dan selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda. Buat Pemuda tunjukkan Karyamu.
Workshop
Belum hilang rasa capek setelah kegiatan Milad malam itu, paginya, 29 Oktober 2011 saya harus mengikuti kegiatan workshop. Walaupun pada kegiatan ini tidak angkat barang-barang berat seperti pada waktu milas, tetapi kegiatan ini memaksa saya untuk mondar-mandir. Acara Workshop ini diadakan selama 2 hari berturut-turut (29-30 Oktober) dengan mengangkat tema " ide-ku film-ku". Dimana setelah kegiatan workshop ini, diharapkan bagi para anggota baru JCM dapat menghasilkan film-film indie yang berkualitas dari ide mereka sendiri.
Acara ini dikemas sedemikian rupa sehinga menjadi acara yang insyAllah bermanfaat bagi semua peserta. Sayangnya, kegiatan ini tidak bisa dihadiri oleh seluruh anggota baru JCM yang berjumlah lebih dari 100 orang karena kesibukan masing-masing. Kelompok yang saya dampingin saja yang datang hanya hitungan jari. Pertama 5 orang setelah istirahat hanya ada 1 orang entah pada pergi kemana tuh anak. dan hari kedua 4 orang tetapi setelah istirahat cuma tinggal 2 orang karena yang 2 lagi harus menjemput saudaranya yang datang. Pokonya ada ajach yang menghalangi mereka untuk hadir.
Kegiatan demi kegiatan workshop ini diisi dengan materi yang berhubungan dengan perfilman. Mulai dari manajemen produksi, sinematografi, penyutradaraan hingga tahap akhhir yaitu editing. dari keseluruhan materi, yang paling dapat dikatakan hidup adalah saat materi editing (bukan mendukung salah satu pemateri). Hal ini karena dalam pembawaan materi hampir 80% dibawakan dengan becanda (kurang serius dikit). Sampai-sampai salah satu peserta ada yang nyeletuk "ini seminar apa nonton lawak?". Tidak hanya itu, materi yang sebenarnya ditunggu-tunggu peserta ini juga tidak dapat berlangsung dengan sempurna karena saat akan menunjukkan demostrasi cara mengedit, tiba-tiba listrik padam. Alhasil tidak ada praktek editing sebagaimana harapan para peserta Workshop.
Dan akhirnya usah sudah kegiatan saya 2hari 1 malam ini, tinggal kini rasa pegal yang saya rasakan di sekujur tubuh. Sealnjutnya kegiatan JCM adalah Produksi Film dan setelah itu Makrab sekaligus Peresmian anggota baru JCM yang pada kegiatan Makrab ini saya yang terpilih sebagai ketua panitia. Sebenarnya pengen diganti, karena saya tidak suka menjadi ketua panitia, saya lebih suka kelak menjadi imam rumah tangga dan diri sendiri, heheheh. Tapi jika memang saya tetap ditugasi sebagai ketua panitia, saya hanya bisa bilang: "Buat seluruh anak JCM tolong bantuan dan kerjasamanya, agar program kita bersama ini dapat berjalan dengan baik!"
Hari ini, selasa tanggal 25 Oktober 2011. Saya mengalami hal-hal yang saya sendiri bingung harus bilang apa. Sesaat sebelum mengikuti Kuliah Tamu bersama Hj. Marissa Haque Fawzi - artis sekaligus istri penyanyi Ikang Fawzi - aku dibuat bingung sama seseorang cewek. Sebut saja namanya Suci (nama samaran. red). Entah apa yang saya rasakan, seakan saya menjadi tempat pelarian si suci, sepertinya saya dimanfaatkan. Walaupun saya belum tau pasti motif dia, apa memang sebagai pelampiasan saja atau memang dia ngajak becanda sama saya seperti teman-teman yang lainnya. yang jelas hal ini sangat berbeda sekali.
Hal yang paling tidak bisa saya mengerti adalah, ketika disaat dia membicarakan tentang sesuatu yang mengarah kepada hubungan "antara saya dan dia" yang mau dibina (kata kasarnya. red) dan saya menanggapi dengan becanda, dia menampakkan sikap marah. Jika dilihat dengan mata telanjang, seakan membuktikan bahwa dia ingin membina hubungan dengan serius. Akan tetapi dilihat dari mata hati, firasatku mengatakan bahwa dia hanya menuangkan emosi sesaat karena dia tidak bisa mendapatkan cintanya pada orang lain.
Disatu sisi saya tanggapi dengan becanda pula, tetapi disisi lain saya ingin menanggapi dengan serius agar tidak menyakiti hatinya (jika memang dia seungguh2). Akan tetapi setelah mendengar perkataan dia yang secara tidak langsung menunjukkan bahwa dia memang dilanda duka akan cintanya yang tak terbalas, Akhirnya saya putuskan untuk berkata TIDAK alias saya tanggapi tidak serius. Memang sempat keluar kata marah dari dia ke saya karena saya tanggapi dengan becanda, tetapi selanjutnya dia meminta maaf sendiri ke saya karena telah marah. Mungkin ini wujud dari kesadaran dia bahwa apa yang dia lakukan itu salah.
Tidak mau panjang2 dengan apa yang saya alami ini, karena saya rasa sudah cukup. Sekarang tiba waktu menceritakan pengalaman yang baru saja saya alami mengenai keikut sertaan saya dalam Kuliah Tamu bersama seorang artis yang sempat merambah dunia polotik tetapi akhirnya mengundurkan diri. Sebenarnya tidak ada hal yang bisa dikatakan menarik untuk dituliskan, tetapi mungkin satu kata ini yang akan membuat pembaca ingin tau, yaitu ARTIS.
Artis dalam benak masyarakat umum (apalagi masyarakat desa) adalah sosok yang sangat dikagumi dan dipuja-puja. Iya apa iya?? (kata yang tadi dipakai Mbak Marissa saat bertanya pada audiens).
Acara yang sebenarnya diadakan untuk mahasiswa-mahasiswi Jurusan/Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga yang mengambil Mata Kuliah (Makul) Periklanan. MaKul ini sendiri sebenarnya diberikan untuk semester 5. Akan tetapi karena saya mendapat jatah SKS lebih maka saya mengambil Makul ini walaupun saya masih semester 3, Alhamdulillah yaa..So Alhasil, saya pun mengikuti kegiatan Kuliah Tamu yang diadakan oleh Dosen MaKul Periklanan (Ibu Elis Zuliati Anis) yang kebetulan beliau adalah teman akrab mbak Marissa.
Dalam kesempatan kali ini, mbak Icha - panggilan akbar Mbak Marissa haque - membawakan serta menyampaikan materi yang berhubungan dengan Periklanan, yaitu Marketing Selebritis, dan apa gituch yang jelas tuh tentang bagaimana mempromosikan diri, serta bagaimana agar diri selalu mendapatkan job sebagai bintang iklan. Kalo anda belum tau bahwa seluruh keluarga mbak Icha dan Mas Ikang Faizi ini semuanya menjadi bintang iklan.
Marketing Mix adalah cara atau strategi yang paling ampuh untuk meng-advertise-kan sesuatu. Marketing sendiri jika dijelaskan dengan rangkaian kata akan membentuk deretan kata yang tidak kan pernah putus. Tetapi inti Marketing kata Mbak Icha adalah Pertukaran. Dimana dalam setiap meng-iklan-kan pasti ada 2 Faktor yang tidak bisa dihilangkan yaitu Sender dan Reciever. Sudah gak usah bahas materi entar kalian BeTe, Bosen n Ngantuk lagi.
Yang jelas dalam acara tadi yang dimulai pukul 1 siang (jadwal. red) tetapi molor hingga berapa menit tadi saya gak ngitung, Mbak Marissa kelihatan banget berpendidikannya hingga terus terang banyak kata-kata yang dipakai dalam menjelaskan saya tidak tau. Padahal kata Mbak Icha itu sudah merupakan contoh n pembahasan paling sederhana. Berarti batapa bodohnya saya???
Dan manyangkut cewek yang tadi diawal tulisan ini, ternyata secara kebetulan kita ketemu dalam acara yang sama (pasti pembaca bilang cieeeehhh), Padahal saya biasa ajch. Yang jelas tadi saya lihat wajah ketidak nyamanan yang ada di wajah dia. Mungkin karena tadi dia sempat bilang saya "Nyebeliiin" dan akhirnya dia minta maaf juga, makanya dia agak sungkan (malu) dengan saya. Soalnya tadi chattingnya dia gak saya bales karena saya tinggal sholat dan mungkin dia mengira saya marah balik. heheh lucu.
Buat kamu yang merasa menjadi cewek yang saya ceritakan, saya mahon maaf ya, karena:
1. sudah menceritakan anda di blog ini walaupun tanpa penyebutan nama.
2. sudah membuat anda tadi marah n kesel.
3. saya gak bisa memenuhi permintaan anda yang permintaan itu bukan dari diri anda sendiri.
Semoga kejadian tadi tidak merusak pertemanan kita. Friend is Everything.
Ups, udah adzan magrib, saya sudahi dulu mungkin kapan2 bisa delanjut dengan tulisan yang berbeda. Inilah hidup, kadang ketemu dengan hal yang menjengkelkan dan ada saatnya ketemu dengan hal yang membahagiakan.
Dalam pandangan agama islam, wanita
adalah makhluk yang paling di hormati, wanita dijaga oleh risalah islam dan di
muliakan oleh syariatnya yang suci. “Sesungguhnya
wanita berada dalam kedudukan yang terhormat dalam kehidupan”. Namun terlihat pada kehidupan masyarakat saat ini yang
mengenyampingkan wanita. Sangat miris memang, saat melihat situasi yang terjadi
saat ini. Tidak lain adalah saat melihat realita kehidupan yang dialami oleh
para wanita. Apakah sebenarnya faktor yang menjadikan kehidupan wanita penuh
dengan gonjang-ganjing alur cerita kehidupan?, apakah karena wanita mempunyai
sisi sifat yang berbeda dengan kaum laki-laki?, ataukah karena segi intelektualitas
yang dimiliki tidak lebih dari laki-laki ?. Faktor itu sangat perlu adanya
telaah, bahwa wanita tidak selamanya lemah dalam sifat ataupun dalam
itelektualitas. Karena semenjak jaman kartini hingga kehidupan sekarang
membuktikan bahwa wanita bisa memperoleh pendidikan, serta bekerja. Bisa
dikatakan ternyata wanita dalam kehidupan mempunyai tanggungjawab yang lebih
besar dari laki-laki.
Wanita dan Intelektual
Mempunyai intelektual yang tinggi
sangatlah diinginkan oleh setiap orang, bukan hanya laki-laki, namun wanita pun
bisa mempunyai intelektual yang tinggi. Karena dalam konteksnya wanita pun
mempunyai hak memperoleh pendidikan selayaknya kaum laki-laki. Ilmu dalam
pandangan islam merupakan amal yang paling utama, tidak ada yang memungkirinya,
kecuali orang bodoh atau sombong. “Semua
nash dalam al-qur’an, kitab dan
as-sunnah menganjurkan agar kita menuntut ilmu, baik laki-laki maupun wanita”. setelah kaum wanita memperoleh “ beauty” dalam segi fisik, maka ilmu dalam segi intelektual lah
yang menjadi nilai plus bagi wanita, sehingga terpancar iner beauty yang sesungguhnya. Wanita yang mempunyai intelektual,
akan menaikan integritas derajat wanita di mata masyarakat, namun wanita juga
perlu mengetahui batas-batas selayaknya menjadi seorang wanita. Intelektual
untuk wanita sangatlah lah diperlukan untuk melawan arus modernisasi saat ini.
Maka wanita tidak lagi di pandang sebelah mata oleh masyarakat, tidak lagi
hanya menjadi penyamping kehidupan, karna sesungguhnya wanita mempunyai
intelektual dalam jati dirinya yang perlu dipandang, ketika ia terus memacu
keintelektualannya yang akan membawa perubahan dalam dirinya.
[1]. Wanita dan Tipu Daya Musuh , Dr. Abdullah bin Wakil
Asy-syaikh, hal 29
2. Wanita dan Tipu Daya
Musuh , Dr. Abdullah bin Wakil Asy-syaikh, hal 47
Kita sering melihat orang menangis dan kita pun pasti pernah mengalaminya. Ingatkah kita ketika kita terlahir di dunia ini!! Kita terlahir dengan tangisan, bukan ketawa maupun berbicara yang lebih dulu kita suarakan. Tapi pernakah kita bertanya, mengapa kita menangis?
Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita agar menangis. Menangislah karena Allah, sebab menangis karena Allah adalah perbuatan yang mulia. Bahkan Allah memberikan dua hal bagi orang yang menangis karena Allah.
Pertama, mendapatkan cinta Allah.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah karena takut kepada Allah kecuali dua tetesan dan dua bekas. Yakni tetesan air mata takut kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir dijalan Allah. Ada dua bekas yakni bekas dari jihad dijalan Allah dan menunaikan salah satu yang Allah tetapkan.” (HR. Tirmidzi).
Kedua, tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka, yakni mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga karena waspada di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi).
Kita hidup di dunia ini tidak pernah lepas dari perbuatan dosa. Tanpa kita sadari, kita sering melakukan kemaksiatan, sehingga Allah SWT. memberikan berbagai macam ujian, cobaan serta musibah. Bencana Alam yang terjadi akhir-akhir ini juga merupakan peringatan dari-Nya.
Menangis karena Allah menjadi titik balik kesadaran kita menemukan diri sendiri. Kita menjadi manusia yang memiliki sebuah kesadaran diri bahwa dimanapun kita berada dan kapanpun, Allah senantiasa melihat apa yang kita kerjakan.
Dewasa ini kita banyak disuguhkan berbagai macam berita, baik dari media cetak, radio maupun televisi, mengenai demonstrasi anarkis mahasiswa. Tidak hanya di Jakarta yang notabennya sebagai Pusat Pemerintahan Negara, tetapi aksi para mahasiswa ini terjadi hampir di seluruh pelosok negeri.
Lihat saja aksidemostrasi yang terjadi di Makassar misalnya, mahasiswa dengan bringas merusak fasilitas publik. Pospolisi yang berada di dekat kampus menjadi sasaran pengrusakan. Selain memecahkankaca, mereka juga menghancurkan fasilitas di pos polisi tersebut.
Blokade jalan dengan membakar ban bekas yang membuat jalanan macet, serta bentrok dengan aparat kepolisian yang bertugas mengamankan jalannya demonstrasi pun tak terelakkan dalam setiap aksi menyuarakan aspirasi yang dilakukan mahasiswa.
Aksi para mahasiswa ini, dirasa sangat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar. Karena setiap demonstran menggelar aksi parlemen jalanan, berakhir dengan kerusuhan yang kadang membawa korban.
Banyak sopir angkut, pedagang kaki lima bahkan pekerja kantoran yang mengeluh jika mahasiswa beraksi. Mereka beranggapan bahwa aksi yang dilakukan para mahasiswa melalui orasi-orasi di tengah jalan itu, tidaklah efektif untuk menyalurkan aspirasi rakyat jika ujung-ujungnya berakhir dengan perusakan dan pembakaran. Malahan cenderung mengganggu mobilitas perekonomian masyarakat sekitar.
Salah satu tugasi ntelektual sesungguhnya adalah mengkritisi kebijakan Pemerintah. Sebagaimana yang pernah ditulis oleh Sosiolog Jerman, Theodor Geiger: “Tugas seorang cendekiawan adalah menjadi pengeritik kekuasaan yang tidak jemu-jemunya dan dengan itu menjaga agar pohon kekuasaan itu tidak bertumbuh tinggi mencakar langit.”
Jika setiap penyampaian aspirasi ataupun kritik terhadap Pemerintah berujung dengan kerusuhan yang mengancam jiwa dan fasilitas umum, Mahasiswa bukan lagi pantas dianggap sebagai kaum intelektual yang berprilaku layaknya orang yang berpendidikan. Padahal apa yang dilakukan para mahasiswa itu bertujuan untuk menyalurkan aspirasi masyarakat tentang kebijakan pemerintah yang dirasa kontra terhadap kepentingan rakyat.
Oleh karena itu, mahasiswa—kaum intelektual—dalam menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap kebijakan yang tidak sesuai dengan UU yang sudah ada, hendaknya dilaksanakan dengan tertib dan bijaksana sesuai dengan norma dan peraturan yang sudah ada. Sehingga mahasiswa tidak menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat.
Kokok ayam membangunkan tidurku. Setelah mandi dan pakaian seragam rapi
melekat pada tubuh, bergegas aku ke halte Bus Trans Jogja yang mana Bus Trans Jogjat tersebut lebih kecil dari Trans Jakarta. Shelternya tidak jauh dari kos-ku. Aku
putuskan menuntut ilmu di salah satu SMA yang ada di kota Jogja setelah lulus
SMP di kota Lamongan. Aku sendiri terlahir sebagai anak kota Gresik yang
terkenal dengan Semen-nya. Aku suka Jogja yang terkenal sebagai kota pelajar dan budaya, yang pasti
lingkungannya mendukung untuk belajar. Kurogoh saku celana, kudapati uang dua lembar lima ribuan. Berarti uang
ini hanya cukup buat bayar transport PP (Pulang-Pergi) ke sekolah dan makan
sekali untuk hari ini.
Oh….my God!! Aku baru sadar kalau sudah tiga minggu ini, aku belum dapat transfer-an dari orang tua. Saat ini aku
harus menghemat uang saku. Padahal akhir-akhir ini banyak sekali pengeluaranku,
buat beli buku, mengerjakan tugas, makan, dan kebutuhan lainnya. Seharusnya
sudah minggu yang lalu uangkudi-transfer, tapi....orang tuaku belum punya uang. Jadi aku
harus sabar walapun harus makan sekali dalam sehari bahkan mungkin tidak
makan kalau uangku sudah
tidak ada sama sekali.
Orang tuaku hanya bisa menggantungkan hidup pada hasil sawah dan hasil kerajinan tangan yang dikerjakan ibu. Menurutku tidak akan bisa produktif jika sawah hanya digarap secara tradisional seperti kebanyakan dikerjakan para petani yang berada di desa. Karena biaya
penggarapan serta harga bibit dan pupuk yang relatif tinggi bagi rakyat di pedesaan.Dan itu tidak sebanding dengan harga jual hasil panen. Apalagi
hasil kerajinan tangan ibu
harus menunggu konsumen yang membutuhkan
karena sebagai orang desa ibu belum punya relasi untuk memasarkan hasil kerajinannya.
Sekitar setengah jam perjalanan menggunakan Bus Trans Jogja, aku tiba di sekolahku
tercinta setelah sebelumnya berjalan kaki kurang lebih sepuluh menit dari Halte ke sekolah.
“Firman!” suara terdengar
dari balik punggungku. Langkahku terhenti, sosok bertubuh tinggi besar tengah berjalan menghampiriku. Dia adalah Fahmi. Sahabat baikku
yang selalu mengerti aku.
Kita selalu berdua di sekolah baik itu di kelas, kantin, dan
perpus—menghabiskan waktu dengan membaca buku. Kita selalu bersama ketika sedih
dan bahagia. Waupun kita berbeda agama, dia tidak pernah lupa mengingatkan aku
untuk beribadah ketika waktu sholat tiba. Dia tidak pernah
membanding-bandingkan sebuah agama.
Aku tertegun ketika dia bilang hari ini juga akan pergi ke malang selama
tiga hari untuk menjenguk neneknya yang sedang sakit. Aku seakan tidak percaya,
baru pertama kalinya aku dalam keadaan susah, tapi teman baikku meninggalkanku
dalam kondisiku yang seperti ini. Aku harus minta bantuan
siapa? Aku tak mempunyai sanak
saudara. Biasanya kalau aku tidak punya uang, aku pinjam dia tapi
sekarang dia mau pergi meninggalkanku. Lengkap sudah penderitaan yang aku alami ini.
“Oh…ya! Hati-hati ya di sana” ucapku dengan berat hati.
Sebenarnya berat hati untuk
aku melepasnya walau cuma tiga hari. Apalagi dengan keadaanku yang seperti ini.
Huh......!!!! Aku tidak boleh egois. Setiap orang punya urusan masing-masing. Yang jelas aku
harus pinjam uang teman kostku agar aku bisa memenuhi kebutuhanku. Karena
sahabat yang selalu membantu aku, saat ini tertimpah musibah juga, jadi tidak etis kalau aku minta bantuannya. Semoga
Allah menolong kita berdua.
Tet…tet…tet…
Bel tanda masuk telah
dimulai.
“Masuk yuk!” ajakku pada Fahmi,
langkah kaki memasuki ruang kelas. Diikuti langkah berat guru matematika. Di
dalam kelas, aku masih merenungkan keadaanku. Ku pejamkan mata sesaat agar
keadaanku bisa normal, tanpa
bayang-bayang akan masalah
yang aku hadapi. Namun resah
terus menggelayut dalam pikiranku. Tanpa kusadari sepotong kapur melayang
mengenai kepalaku.
”Tukkk...Aduh!!!!!” Semua murid
memandang dan menertawakanku. Aku hanya bisa menahan sakit dan rasa malu.
xxx
Malam sunyi, suara serangga beralun
mengiringi malamku. Aku meratapi
nasibku. Adakah penolong bagiku? Ku lantunkan ayat suci dalam pangkuan.
Kedamaian menembus hening hatiku. Kesejukan hati tercapai menghapus semua resah
yang ada.
“Assalamu’alaikum ya akhi!” sapaan
hangat dari bibir akhi Ridho. Teman satu kos. Dilangkahkannya kaki
memasuki kamarku yang belum sempat kubereskan, banyak buku yang berserakan.
“Besok ada lomba adzan! Mau ikut?” tanya Ridho seraya memberiku
selembar kertas bertuliskan Lomba Adzan di baris paling
atas. Senyum Ridho memberikan dukungan padaku untuk mengikuti lomba tersebut.
“Aku juga ikut! Sapa tau itu rizki
kita, lumayan buat masukan sebab ortuku belum kirim.” tukas ridho
“kok bisa sama??” Pikirku dalam hati.
MasyaAllah aku kira hanya aku yang mempunyai masalah seperti ini,
ternyata teman kosku juga
mengalaminya. Tapi aku heran, mengapa dia tak sedikit pun menunjukkan rasa keresahan
atau kegelisahan menghadipi semua
itu, tidak seperti aku.
Ternyata aku bukanlah orang yang sabar, bukan orang yang tegar dalam menghadapi
suatu masalah. Ya Allah tuntunlah hamba agar lebih sabar dan tabah.
xxx
Hari minggu yang cerah. Di sertai dengan sinar matahari yang
menghangatkan tubuhku.
“Ayo berangkat!” ajak ridho yang
sudah rapi dengan baju koko dan celana hitam berbahan kain, tidak ketinggalan
pula peci hitam menutup rambut kritingnya.
“Kemana?” tanyaku yang masih belum
sadar, padahal hari ini akan dilaksanakan perlombaan adzan. Aku merasa seakan
semua memori dalam otakku
hilang ditelan kebingungan serta kebimbangan oleh sebuah keadaan.
“Heh…!!!” Sekali lagi ridho mengagetkanku yang masih melamun. Aku orang yang tidak bisa
menggap sesuatu itu sepele, walau sekecil apapun masalah itu. Bagiku masalah adalah
perkara besar yang harus dipikirkan jalan keluarnya.
“Ayo ke tempat lomba!!”
Ya Allah aku baru sadar ternyata
hari ini adalah hari dimana aku bisa meraih hadiah yang mungkin bisa membantu
keadaan yang sedang menimpaku.
Itupun kalau aku bisa meraih kemenangan dalam lomba itu.
Aku pun bergegas mandi dan berpakaian rapi. Bersama Ridho, kulangkahkan kaki menuju tempat perlombaan yang tidak seberapa jauh dari kos kami. Hanya melewati jalanan di perumahan Griya Nusa Indah dan menyeberangi jembatan di atas sungai Gajah Wong untuk bisa sampai ke tempat perlombaan dengan cepat.
Hati pun mulai bimbang menanti saat-saat
yang mendebarkan, saat dimana aku harus berperang, berjuang meraih sebuah
kemenangan.
“Fir! Ayo sekarang giliranmu”
lamunanku pecah.
Gimana aku bisa menang kalau pada
diriku sendiri tak ada semangat atau pun keyakinan untuk menang. Bismillah, man jadda wa jadda! Dengan
berjuang melawan rasa ketidak berdayaan, ku jalani juga perlombaan ini.
Sekarang hanya doa dan tawakal yang bisa aku perbuat, usaha serta perjuangan
sudah aku tunaikan. Ya Allah hanya atas ijin-Mu segala kan berlaku!! Hati penuh
pengharapan akan kemenangan atas perjuanganku, dan paling tidak kemenangan ini juga dapat meringankan sedikit
masalah yang ku alami.
Tiba juga waktu pengumuman, pemenang
hanya diambil 3 teratas, yaitu juara
pertama, kedua dan ketiga. para
pemenang dipanggil dari urutan bawah,
“Juara ketiga lomba adzan adalah khoirul na’im dari kota timoho” suara MC
membahana disambut teriakan serta tepukan para penonton yang memadati tempat perlombaan. “Juara
kedua, kita sambut dengan tepukan yang meriah, Imam asyrofi dari Sapen” tepukan
yang lebih meriah mengiringi sang pemenang maju ke atas pentas.
Namaku masih juga belum dipanggil, ini kesempatan terakhir namaku
dipanggil, dengan penuh harap ku panajatkan segalah doa demi sebuah kemengan.
Kalimat dzikir tak putus oleh
bibirku, komat-kamit terucap
kalimat dzikir. “Dan tiba pada pemenang pertama”. “Deg..!!” jantungku kaget
oleh suara MC. “Kita sambut, ananda Rizal Mahri dari tugu.”
Lemas sekujur tubuhku, nama yang
sangat kunantikan tak juga dipanggil sebagai pemenang di perlombaan kali ini.
Ya Allah, kenapa segala yang ku usahakan, segala yang ku tempuh tak juga Engakau berikan hasil? Apa aku tak
patut memperoleh rahmat-Mu?? Aku sudah penuh peluh berjuang, aku sudah berusaha meraih mimpi-mimpi yang
ada. Tak sedikitpun ku dapatkan buah dari hasil menanamku. Apa salah dan
dosaku Tuhan……?? sehingga segalah usaha yang telah aku lakukan, percuma begitu
saja. Tak ada manfaat sama sekali bagiku ini.
Lebih menyakitkan lagi, aku tau dari
obrolan penonton bahwa para pemenang tadi adalah warga asli Jogja semua. Padahal
dari perlombaan tadi, aku tidak lebih jelek dari mereka yang mendapatkan gelar juara, apalagi
suara ridho begitu menyentuh hati saat dia mengumandangkan adzan tadi. Suara mereka semua nggak ada
apa-apanya tapi tetap saja ridho tidak menjadi pemenangnya. Apakah benar bahwa
nepotisme sudah merebak di seluruh negeri? Tak hanya di gedung perwakilan saja
akan tetapi sudah merebak ke segalah penjuru, bahkan yang berhubungan dengan
keagamaan. Seperti pada lomba adzan yang diadakan di radio Suara Insani ini??
Bagaimana dengan aku? Apa aku harus
mencuri untuk memenuhi kebutuhanku?? Asstagfirullah
hal ‘adhim! Ya Allah jauhkan aku dari perbuatan yang terkutuk, hindarkan aku dari api neraka-Mu. Aku harapkan surga-Mu
tapi apa aku pantas kalau aku sendiri mau berputus asa begini?
Ku langkahkan kakiku meninggalkan
tempat perlombaan yang tak adil bagiku. Ridho masih dengan ketabahan dan
kesabaranya selalu membesarkan hatiku. Dia begitu tawakal menerima semua yang
dihadapinya, tak ada rasa di-dholimi
dalam perlombaan tadi. Dia hanya berkata“Itu semua
belum rezeki kita,masih banyak
jalan untuk memperoleh rezeki-Nya”.
Begitu keyakinan ridho bahwa
manusia membawa rizekinya masing-masing. Aku malu dengan ketabahan ridho
walaupun dia bukan berasal dari pondok pesantren seperti aku tapi keagamaanya
begitu kental dan melekat. Ya
Allah ampunilah dosaku.
xxx
Hari senin pagi yang cerah, sinar
mentari menerobos celah-celah jendela. Dari balik pintu kamar kusambut pagi
dengan muram muka.Kubuka pintu pelan-pelan. Aku tersontak kaget. Di hadapanku berdiri sosok tinggi kekar berbaju agak kusut. Aku
pikir pak kost yang mau menagih uang kost yang sudah nunggak 1 bulan. Di atas saku bajunya tertera tulisan “Kantor Pos”.
Dengan senyum terpaksa ku sambut pria
yang aku tau bernama Muhlis—dari kartu nama yang terpasang di depan dadanya.
Sepucuk surat kuterima setelah mengisi nama dan tanda tangan di secarik kertas
resi darinya. Tukang pos berlalu meninggalkan kamar kostku.
Hati-hati ku buka amplop, aku takut jika surat itu adalah surat
peringatan dari sekolah karena SPP-ku nunggak
1 bulan dan bulan ini adalah bulan ke-2 aku harus bayar SPP. Dalam peraturan
sekolah nggak ada kata SPP telat bayar apalagi ngutang, tapi karena aku dikenal baik sebagai murid yang selalu
membawa nama baik sekolah, sehingga aku diberikan dispensasi untuk bulan
kemaren dalam membayar SPP.
Pelan-pelan kutarik kertas surat dengan kop surat bertuliskan majalah
Sabilillah—majalah ternama di kota Jogja. aku melonjak kegirangan, mengangkat
tangan dan menariknya ke dada seperti ronaldo yang baru saja mencetak gol di
menit-menit terakhir pertandingan. Spontan
aku bersujud syukur memanjatkan
rasa syukur yang teramat atas anugerah ini. Aku lari kekamar sebelah memberikan
kabar pada Ridho. Aku serahkan dengan penuh bangga dan syukur surat dari
majalah Sabilillah padanya. Dibacanya dengan sungguh-sungguh dan teliti tulisan
“Selamat kepada saudara Firmansyah atas diterbitkannya naskah cerita
‘sebening embun pagi’ pada Rubrik cerbung—cerita bersambung.”
Ridho dengan bangga menyalamiku. Aku
senang sekali, usahaku membuahkan hasil juga. Aku sebenarnya sudah tidak
memikirkan akan cerbung yang pernah aku kirim. Aku juga sudah beranggapan bahwa
cerita tersebut sudah dibuang
di tempat sampah oleh penerbit karena lebih dari 4 bulan yang lalu aku
mengirimnya. Aku pernah dengar bahwa naskah yang tidak ada kabar berita selama
3 bulan dari hari mengirim sudah dinyatakan hangus atau tidak dapat dimuat.
Rasa syukur tak putus-putus aku
panjatkan, bukan hanya karena naskahku dimuat tetapi dengan dimuatnya naskah ku
berarti aku juga mendapatkan honor yang
bisa aku gunakan untuk membayar SPP dan kost. Di tengah panjatan rasa syukur
bahagia, ringtone handphone nokia 3100-ku berdering, Tulisan “Bunda Tersayank”
terterah jelas dilayar. Kubuka pembicaraan setelah
menekan tombol yang bergambar telepon berwarna hijau dengan ucapan salam. Terdengar suara khas ibu yang tak pernah bisa
aku lupakan. "Ibu sudah kirim uang. Alhamdulillah baru saja dapat rezeki, ada
pembeli dari kota yang memborong hasil kerajinan yang ibu buat."
Tetesan air mataku tak terbendung lagi, rasa haru dan syukur atas
limpahan rezeki yang dianugerahkan Tuhan saat ini begitu terasa. Tidak hanya
satu tapi anugerah yang aku peroleh dua sekaligus. Aku baru sadar dengan
kata-kata yang selalu aku dapatkan di pesan message dari teman-temanku bahwa:
“Tuhan memberikan sesuatu pada waktunya dengan begitu indah, melebihi keindahan
yang hanya bisa kita bayangkan sebelumnya, jika kita mau bersabar dan
tawakal.” Alhamdulillah….. Ya Allah.
Mengamatipara
pejuang yang sering terabaikan jasa-jasanya. Padahal begitu kuat mereka dalam
memperjuangkannya. Tanpa rasa lelah, dikerahkannya segenap tenaga yang ada demi
mencapai cita-cita serta harapan yang ada dalam benak mereka.
Di keramaian
pasar yang becek, panas, dan bau,
mereka berdesak-desakan memilih barang barang belanjaan yang bukan sepenuhnya
untuk kebutuhan mereka sendiri akan tetapi untuk mereka jual kembali di
perumahan-perumahan yang para penghuninya rata-rata malas pergi belanja ke pasar.
Dengan sepeda pancal butut, semua belanjaan mereka usung. Untuk mengurangi rasa lelah dan
lapar mereka membeli sebungkus nasi sebagai pengganjal perut yang sudah
keroncongan. Panas terik matahari tak menyurutkan perjuangan mereka menjual
barang-barang belanjaan untuk meraih sepeser demi sepeser uang keuntungan.
Dikayuhnya sepeda reot tanpa rasa
lelah walaupun berkucur keringat terlihat di tiap pori kulit kriputnya.
Terlihat
pemandangan janggal dalam hati, seorang lelaki yang berbadan sehat hanya dengan
property tongkat di tangan kiri sembari senyum manis tanpa dosa menengadahkan
tangan pada setiap orang yang ada di sekitarnya, tak luput pula dia
menengadahkan tangan pada ibu-ibu yang sedang berjuang untuk keluarganya hanya
demi recehan uang. “Ya Allah, apa yang ada dalam pikiranya?” Tanpa rasa
bersalah dia terus meminta padahal keadaan fisik mereka sebenarnya tak lebih
buruk dibandingkan ibu-ibu itu kalau hanya sekedar untuk bekerja. Apa benar
dunia sudah terbalik? Wanita menjadi perkasa sedangkan yang laki-laki menjadi
lemah.??